Kereta Api
Batu bara itu dibakar lagi, untuk menghidupkan mesin kereta api renta itu, tubuh luarnya yang kokoh tetapi sangat rapuh dalamnya. Kereta itu kemudian bergegas menelusuri rel yang sudah tertata rapih, rel yang sama seperti kemarin, rel yang memiliki arah yang sama tanpa ada sedikit perbedaan di hari ini atau pun hari berikutnya. Batu bara itu terbakar habis tanpa jejak, yang tertinggal hanya puing puing abu sisa pembakaran beserta kebulan asap tipis. Mesin itu menjadi menghitam, sudut mesin itu terkikis dan rusak oleh sang batu bara. Begitupun esoknya batu bara kembali dibakarnya, meski mesin sudah makin menghitam dan merusak. Kereta api kembali menelusuri rel walaupun ia tau dimana akhirnya. Hingga mesin itu telah hitam rupanya, gerakannya yang lincah telah terhambat, fungsinya pun sudah tidak ada lagi. Kini sang kereta api telah berhenti bergerak, mesinnya telah benar benar berhenti, dan batu bara yang selama ini dianggap sebagai alasan berjalannya yang telah menghentikannya. Relnya yang selama ini ia anggap akan membawa ia melihat dunia, ternyata mengantar kepada kekosongan, dan batu bara yang ia bakar tiap waktu mengantarkan kepada sia sia.