Cerita Dalam Kotak Rokok

1.
Ada yang jatuh
Tepat memasuki nadi
memompa hingga meletup
kini buat aku berlari
Yang warnanya abu
yang dulu mengelus pipi
kencang hantam membisu

2.
Kami yang terbang mengawang
bicara bagai bibir tertusuk ngilu
sampai jadi terpasung disudut
sudah suara habis di maya

Tak harus tau apa sekarang
tak harus jadi apa bagaimana
tak harus di ingat bahkan
biar kami pisah pergi

3.
Tapi bagaimana kalau abu warna kesukaanku?
Biarkan siluetmu memadu putih sebuah harap
menarik aku ke dalam sepi paling dalam
biaskan bersama cahaya surya
lalu aku terlunglai membias
bersama hitam menjadi abu

lintingan kertas pengisi kotak rokok
biar tertulis menjadi penuh
biar kami bakar bersama jadi abu
nafasku ku terngah menikmati
hingga habis, hingga kosong.

Ide

norma mengelus, bisik semu
seperi pasung tangan kami
sudah kami meluap
hingga hanyut keteguhan
masih melarikan kepuasan

“Hilangkan obsesi, bunuh gengsi, tinggikan harga diri, rubah diri sendiri!”
Isa Wirasomantri (via fuckwirasomantrioff)

Ketika ide terus di peras. Estetika yang terus di tuntut. Tenaga yang mulai terperas. Tangan yang selalu kerja keras. Harus mulai dari mana? ketika hanya ada sendiri dan imajinasi.

“As an architect you design for the present, with an awareness of the past, for a future which is essentially unknown.”
Norman Foster

sorayarfnt:

As time goes by…

Sadar

Rupa ini membelah seribu

Gerilya jelajah nirwana kelabu

Tangannya mulai terayun

Kaki mulai tersayat rindu

Lagi berbisik menggelitik telinga

Pejam merebah di relung

Aku mulai menegap

Sadar kaki bernanah bertuah

Cangkang mengelupas tak karuan

Saatnya pulang tuan

Kembali berparas

Kembali pulang

Memeluk kesadaran

Pemuda

Pemuda mulai berontak.
Mulai ia gemetar, bernarasikan mimpi.
Geram ia mengayuh, menyergap jalanan.

Sumpah jiwa terserapah
Bakar sampai badan merah
Basuh mata bersimbah
Aku melangkah

Parasnya melunglai, pemuda diam gemetar.
Kakinya menyapa danau dikaki gunung.
Di kencaninya serdadu tanpa alas kaki,
Ia mulai bersenandung.

Merangkul lagi berdendang
Mozaik lah kami bersama
Melucuti lusuh di basuh
Menggores hitam jalan kami

Perupa ini sudah tidak berupa,
tangannya menggeram menulis.
Ketika pikirannya meliar dan bebas.
Tubuhnya yang kecil, habis di telan
jaman dan ilmu.

Kurasakan gertak nadi
Mencuat menusuki dahi
Biarkan aku panas
Lalu ku bakar sumpah itu
Sampai air mata menguap
Ibunda!

Parasnya hilang di ke-abuan,
Getarannya masih terasa.
Pemuda ini lelah mengayuh,
mengayuh sepedah hidupnya.
Dahinya makin mengerut tak peduli.
Merebah tubuh mungilnya di atas ranjang,
memejam matanya, lalu berbisik pilu

Sukses berasal dari mimpi,
mimpi berawal dari tidur
Jadi untuk jadi sukses haruslah tidur

Segenggam pensil di tangannya,
secarik kertas berserakan.
Di belahnya dunia dengan mimpi,
ketika insinyur harus merekonstruksi manusia.

Selamat ulang tahun Indonesia

Derap kaki degap jantung di bentang

Saat fajar menyuar auman pembebasan

Dibarisinya raga para janji di hari tua

Kami hunuskan tiang-tiang pembelah langit

Kibarkan tiap tetes lagi darah kemerahan

Jiwa putih para penyemayam tanah Negri

Mari tegap busungkan dada meruncing

Bung terbakarlah serukan, berserulah!

Kami yang berdiri ini tanah kami

Sampai merah darah menetes,

Putih jiwa lagi di renggut

Kibarkan merah putih

“Lebih baik terasingkan daripada menyerah dalam kemunafikan”
Soe Hok Gie (via vicobagaskara)

Tak kurasa, lalunya kini mengusang

ku pikir, debu pekat mengabur sudah

Meniduri sepi hati bercengkrama sendiri

terseret hingga selat dalam diri

Ah lagi, berhasil menggugur di relung

melautiku dengan siluet yang berlalu

Kusebut lagi, dirasa ingin mengkubur

masih belum mengabur,

Malah lagi kau menghambur!

Semua orang nulis suratnya masing-masing, bukan dengan pena tapi dengan tetesan darah, keringat bahkan air mata. masukan ke dalam amplop, lalu terbangkan. Kirim ke tuhan. lalu surat siapa yang akan sampai ke tangan tuhan ?

Merah jadi benar benar sembap

Manusia sudah biasa aku ini

dewa apa lagi bukan

Tertikam arus-arus lautan

selat di dampari penuh dalam

Pasrah kalau sudah begini

dikoyak kosong sepi karuan

Tak lebih membangkai sekarang

mati di peluk laut ke dasar

sampai nanti jadi bangkit

hidup lagi pakai jantung kemarin

Sajak tenggang sosial

fuckwirasomantrioff:

Terlampau lama saya mendalam
Terlalu jauh saya terdampar
Bukan berarti saya tak mengerti
Bukan berarti saya tidak memahami

Walau berdiri disini
Bukan berarti tertinggal
Tak mampu sendiri
Tak mungkin kembali kekal

Saya, tak sudi kalah
Tidak akan sampai hati
Walau harus kehabisan darah
Saya kejar sampai mati

“Nganggur itu Cuti dari kehidupan. Udah lupa gimana cari nulis pakai tangan.”