Paradigma
Ku ambilkan segenggam pulpen bertinta pekat
Tulis secarcik kertas kecil
Penuh kata bahkan kalimat
Susun hingga beradu
Anyam hingga berbilik-bilik
Lalu hingga berangka
Bertata atau beserak
Selipkan tepat tengah otak
Jadi sandaran sang logika
Jadi indra penglihat
Sahabat
nafiandriansyah:
Kami berada dalam satu
Sama satu biadab semuanya
Entah itu “Menatap Rancunya Kebenaran’,
‘Bumi dan Matahari’,
atau ‘Mata Merah’
Panggil sajalah kami setengah manusia
Harus seenaknya tapi memanggil kami
Seperti kami harus juga seenaknya kepada bahkan Pencipta
Kami yang berjaga pada batas kebenaran,
pada setiap putaran bumi,
juga pada tiap tetes darah
Sampai semuanya berbinal saja
Sampai semuanya bersatu saja
“Disini kita berkarya tiga orang aneh cukup mengubah dunia.”
Esa Prakasa, Gusma Haryo, & Nafi Andriansyah (via
esaprakasa)
clarisaoctavianti:
percaya sama guwe, cowo gak ngeroko itu limited.
Cowo ngerokok, limited isi dompetnya.
silmicitra:
Yeaaaaay, finally we meet up ya!
Hahahahahaha ceritanya belajar bareng, eh malah webcam-an mana so so an pake kerudung.
Thanks Sor({})
Ibunya silmi ama ibunya aya webcam-an?
Jatuh Hati
Sudah kucoba tarik kelopak mata ini hingga membentang
menembus dinding ke abu-abuan mu itu, menusuk hingga beri setitik celah
Kau tetap pekat, pekat tak berbias
Ekspetasiku tak menjulang bebas menerobos langit langit
Runtuh berserakan jadi puing puing
Perancu ini merancukan dirinya
Tak salah lalu tak benar
Putar aku, jungkir balikan laju darahku
Kau kasat mata
Kau misteri
Buat aku jatuh hati
The end of cigarettes. thanks
Jalani
Jalan bersimpang mengganda bahkan lebih. Beri kumpulan tanda tanya bernyanyian dalam kepala.
Logika dan Hati, berbalas dalam diri. Jangan rancukan keduanya, mereka satu bukan dua hal berbeda. Satu titik diantaranya, titik harmonis, keselarasan dalam diri.
Bukan salah, bukan tak benar, tapi kau tak setuju, tak berpandang sama. Jalan bersimpang seluruh benar bahkan tak ada yang salah. Yakini mengguna hati, pikiri mengguna logika. Agar tak bersesal, karena beryakin dan satu penuh hati.
Jalan bersimpang, berbatu dan berkerikil, berserakan. Lalui atau punguti, Jalani hidup atau Pelajari hidup.
Sungguh, semua jalan yang kita ambil benar, hanya perlu kesungguhan. Tak perlu sesal, pelajari lalu buat berarti.
“Kebahagiaan dan Kesenangan, berbeda”
Waktu Pulang
Matahari hilang di telan kelabu awan.
Bias cahanya sudah tak mampu menusuk pekat awan.
Hanya gelap malam tak bertitik yang bersisa.
Hujan bahkan menghujam lebih dari 4 kali penuh putaran jarum menit.
Turun bahkan seperti serpihan salju yang siap melahap dengan dingin.
Bergentayanglah percik air berkawan dingin, terhempas angin hempaskan
kulit hingga sekujur.
Menggigit lidah hingga kering, menjilat sendi hingga tak berayun,
menggelitik roma buluku.
Tiang tiang pohon tua menopang atap biru usang, berbentuk segitiga anomali
yang menyanggah riak air jatuh bebas meletup diatas kepala.
Baru kali ini aku bersalaman dengan dingin, berangkulan riak hujan,
berkawan hujan malam hari.
Tak banyak hujan malam berbicara, hanya satu kata, kata pulang.
Bebas.
Teriakku melantang meradang menggempita ruang
Nafasku terengah lega, panjang dan lembut
Darah ku memberontak menggejolak, merah berontak
Mataku membentang lebar, lebar tak bercelah haus akan petuah
Kudaku sudah tak bertunggang, tak bertuan, lalu maratonlah ia tanpa henti
Jarum jam putar habis hingga keterbatasan
Jarumnya menusuk kedalam daging jadi ragaku
Aku haus, haus menggoda mara hidup
Tak perlu rontaku, karena kini aku bebas
Bebas berlarian
Kereta Api
Batu bara itu dibakar lagi, untuk menghidupkan mesin kereta api renta itu, tubuh luarnya yang kokoh tetapi sangat rapuh dalamnya. Kereta itu kemudian bergegas menelusuri rel yang sudah tertata rapih, rel yang sama seperti kemarin, rel yang memiliki arah yang sama tanpa ada sedikit perbedaan di hari ini atau pun hari berikutnya. Batu bara itu terbakar habis tanpa jejak, yang tertinggal hanya puing puing abu sisa pembakaran beserta kebulan asap tipis. Mesin itu menjadi menghitam, sudut mesin itu terkikis dan rusak oleh sang batu bara. Begitupun esoknya batu bara kembali dibakarnya, meski mesin sudah makin menghitam dan merusak. Kereta api kembali menelusuri rel walaupun ia tau dimana akhirnya. Hingga mesin itu telah hitam rupanya, gerakannya yang lincah telah terhambat, fungsinya pun sudah tidak ada lagi. Kini sang kereta api telah berhenti bergerak, mesinnya telah benar benar berhenti, dan batu bara yang selama ini dianggap sebagai alasan berjalannya yang telah menghentikannya. Relnya yang selama ini ia anggap akan membawa ia melihat dunia, ternyata mengantar kepada kekosongan, dan batu bara yang ia bakar tiap waktu mengantarkan kepada sia sia.
akbarker:
Twins Brothers Akbar-George
Selow bae